Blog

Branding Film Tjokroaminoto
22 Nov

Branding Film Tjokroaminoto

Sebagian masyarakat tahu nama H.O.S. Tjokroaminoto sebagai guru bangsa. Sebab darinya terlahir para pendiri bangsa termasuk presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Ini adalah catatan saya dalam pertemuan dengan para pemain di film tersebut.

Tjokro sebagai figur sosial memiliki makna sang pemberani, sang pendobrak, sang pemikir dan sekaligus sang pembela ketertindasan. Sayangnya, makna-makna Tjokro tersebut belum terwarisi oleh generasi kekinian.

Pada 5 Maret 2015 lalu, para pemuda-pemudi berkumpul di Balai Pemuda, Kota Surabaya. Hadir pada pertemuan yang diberi tajuk ‘Sobat Tjokro’ diantaranya Reza Rahardian yang berperan sebagai Tjokroaminoto, Christine Hakim, Sabrang seorang seniman juga vokalis band letto, Nirwan Arsuka, dan Najib Azca dari UGM. Keluarga dari Yayasan Tjokro dan Ibu Risma Triharini wali kota Surabaya pun hadir.

Saya mendengar bagaimana mereka semua berbicara tentang makna Tjokro. Mengharap makna-makna Tjokro terinternalisasi, tertanam, di kesadaran dan hati para pemuda era ini. Christine Hakim dengan tuturnya yang mengalir seperti alirnya kali Brantas, mengajak pada perjalanan historis keindonesiaan. Indonesia yang kaya, yang molek, dan indah. Namun, Indonesia berada dalam ketakberdayaan.

Penyebab ketakberdayaan tersebut adalah terlalu lemahnya ‘kita’ berserah pada ketertindasan. Pada masa ini, ketertindasan mencengkram pundak bangsa tidak jauh berbeda ketika Tjokroaminoto hidup. Para penindas menghisap apapun dari tanah dan air. Para penindas itu jelas di depan mata, bukan lagi dalam bentuk para kumpeni Belanda, melainkan politik kotor dan kecurangan.

Saya duduk di samping Christine Hakim, maka merasakan degup jantungnya tersesaki kedukaan pun kegemasan. Pada tetes air matanya, saya menyadari bahwa memang negeri ini mesti segera diselamatkan. Caranya? Bersadarlah seperti Tjokroaminoto yang berani melawan penindasan, dan bangkit dari ketidakberdayaan.

Pun Reza Rahardian menyampaikan hal serupa. Dia tidak hanya sekedar bermain film. Dia ingin menggandeng para pemuda keluar dari ketidakberdayaan dengan energi perubahan. Berpartisipasi dalam gerak perjuangan pada konteks kekinian.

Bertemu ‘film Tjokro’, saya melihat upaya mengonstruksi makna keberanian, keilmuan, kesetaraan, keberpihakan pada wong cilik, dan pembebasan. Branding Tjokroaminto (film), menurut saya, adalah peniupan kembali ruh Tjokro pada tubuh bangsa yang saat ini tertatih mencari jalan kemuliaan. Agar lahir para pemuda yang tidak takut bergerak untuk transformasi keberdayaan.

Catatan ringan branding tjokroaminoto ini saya persembahkan untuk mereka yang tidak mau tertindas, dan tidak ingin bangsanya terjerembab di jurang kekerdilan. -Novri Susan-

Read 461 times Last modified on Monday, 28 November 2016 09:11
Login to post comments

Email Newsletters:

  • Address: Gendeng GK IV No 989,
    RT 85/RW 20 Baciro, DIY
    55225, Indonesia
  • Phone: +62-8213-890-8448 - Office
    +62-8224-577-3939 - CP